Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Sunday, 28 April 2013

Van Peursen

Kebudayaan lahir dan hidup bersama masyarakat manusia, masyarakat menjadi wadahnya dan manusia yang melahirkannya. Kroeber dan Clyde Kluckhon dalam Notowidagdo (1997:25), kebudayaan adalah keseluruhan hasil perbuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pikiran dan perasaannya. Bakker (1994: 22) mengemukakan kebudayaan adalah penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani. Gazalba (1973:59) berpendapat, kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Berkiblat dari pemikiran di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan (dalam arti luas) adalah hasil budi manusia yang bersumber dari cipta, rasa dan karsanya dalam suatu ruang dan waktu; kebudayaan (dalam arti sempit) adalah hasil budi manusia yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. Dengan demikian kebudayaan pada dasarnya sangat kompleks karena bukan hanya terbatas pada hasil budi sekelompok sosial manusia yang menempati ruang/tempat tertentu dan atau hasil karya seni pisik/bendawi yang hanya dapat diindera seperti: seni pahat, lukisan, tarian, pakaian atau bangunan khas (suatu daerah), tetapi lebih dari itu kompleks ide/gagasan, adat kebiasaan, norma, kepercayaan, dan nilai-nilai insani yang lain dalam kehidupan masuk dalam lingkaran kebudayaan. A. Bagan kebudayaan Prof. Dr. C. A. Van Peursen mencetuskan Bagan Tiga Tahap Kebudayaan. Adapun ketiga tahap dalam bagan ini ialah: 1. Tahap mitis, 2. Tahap ontologism, dan 3. Tahap fungsionil. Yang dimaksudkan dengan tahap mitis ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif. Dimana dalam kebudayaan modern pun sikap mitis ini masih terasa. Orang menyebut budaya yang lama dengan istilah ”primitif”. Kendati sebutan itu menurut Peursen sudah tidak relevan lagi. Karena, menurutnya, dunia alam pikirannya mengandung suatu filsafat yang dalam, gambaran yang ajaib dan adat istiadat yang beragam. Runutan epistemologis akan menemukan kata mitos dari kata mitis ini, kata mitos sendiri berarti sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu untuk sekompok orang. Mitos biasanya diturunkan oleh pendahulu dan akan diteruskan lagi. Begitulah kemudian akhirnya sebuah mitos bergulir dari jaman ke jaman. Cerita atau tuturan penurunan ini dapat diungkapkan dengan kata-kata, tari-tarian, atau pementasan lain, wayang misalnya. Tarian di samping sebagai salah satu wujud tradisi lisan, juga sekaligus sebagai suatu bentuk seni pertunjukan. Dikatakan sebagai suatu tradisi lisan karena tarian tersebut mengandung dimensi mithologi atau pesan tertentu yang hanya dipahami oleh pendukung tarian tersebut, dengan demikian menjadi sarana komunikasi, sosialisasi atau sebagai suatu proses reproduksi kebudayaan baik dalam konteks ritual, seni, maupun dalam bentuk pertunjukan lainnya. Dengan asumsi bahwa tarian merupakan bagian dari media pertunjukan dan performance itu selalu mengharapkan adanya audience. Selain Kapferer, Bauman juga menekankan bahwa performance merupakan suatu bentuk perilaku yang komunikatif dan sebagai suatu peristiwa komunikasi, atau “performance usually of communication, framed in a special way and put on display for an audience”. Ini menunjukkan bahwa bahwa tarian sebagai suatu bentuk seni pertunjukan sama dengan seni pertunjukan lainnya dimana audience menjadi bagian darinya. Disamping itu, tarian juga merupakan salah satu alat atau media komunikasi yang bersifat lisan (non-verbal), baik dalam konteks seni maupun ritual. Proses transformasi makna lewat komunikasi tersebut, berbeda dengan bahasa (narasi dan visual), dimana makna yang diekspresikan lewat tarian melalui perilaku atau gerakan.Mitos tidak hanya sebuah reportase akan apa yang telah terjadi saja, namun mitos itu memberikan semacam arah kepada kelakuan manusia dan digunakan sebagai pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia mengambil bagian (ber-part-sipasi). Partisipasi manusia dalam alam pikiran mitis ini dilukiskan sederhana sebagai berikut: Terdapat subjek, yaitu manusia (S) yang dilingkari oleh dunia, obyek (O). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O). Partisipasi tersebut berarti bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat, masih sangat terbukan dan belum merupakan suatu subjek yang berdikari sehingga dunia sekitarnya pun belum dapat disebut (O) yang sempurna dan utuh. Alam pikiran mistis: o Keterangan: O = Objek/jagat/daya-daya kekuatan alam S = Subjek/manusia. Fungsi-fungsi mitos adalah: 1. Menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. 2. Memberi jaminan bagi masa kini bahwa usaha manusia dalam mengukir sejarah hidupnya akan terus terjadi dan akan ada keberhasilan yang terus berulang-ulang (retardasi). Ringkasnya mitos berfungsi menampakkan kekuatan-kekuatan, menjamin hari ini, memberi pengetahuan tentang dunia bahwa manusia berada dalam lingkaran kekuatan alam. Di sinilah tampak kemudian geliat tarik menarik antara imanensi dan transendensi. Jangan salah, ketika dalam alam pikiran mitis pun manusia telah memiliki norma/ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia. Norma atau ketentuan inilah yang kemudian akan terus berubah entah mengalami kemajuan ataupun dekandensi. Sebut saja dahulu ada ketentuan anak banyak maka banyak pula rejekinya. Orang jaman dulu tak malu memiliki banyak anak. Namun, seiring bergesernya peradaban banyak anak menjadi suatu aib bahkan ”dilarang” oleh pemerintah/sang pemegang kekuasaan. Muncullah kemudian tindakan abortus. Begitulah normapun akan berjalan seiring perkembangan manusia dalam berpikirnya. Kata mitos lekat pula dengan kata magi. Namun keduanya sangat bertentangan. Mitos lebih dekat dengan suatu pujian religius kepada sang transenden sedangkan magi lebih kekaguman kepada diri sendiri (sang imanen). Ketegangan ini juga akan nampak dalam fenomena budaya. Lihat saja patung-patung jaman Yunani kuno yang sebelumnya didominasi oleh patung dewa-dewi tradisonal akan beralih didominasi oleh para raja yang mengaku sebagai dewa demi mengkultuskan dirinya sendiri. Tahap yang kedua atau tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakekat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu). Kita akan melihat, bahwa ontologi itu berkembang dalam lingkungan-lingkungan kebudayaan kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu pengetahuan. Alam Pikiran Ontologis: S O Keterangan: O = Objek/jagat/daya-daya kekuatan alam S = Subjek/manusia Dalam alam pikiran ontologism ini, manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Ia tidak begitu terkurung lagi, bahkan kadang ia bertindak sebagai penonton atas hidupnya sendiri. Ia berusaha memperoleh pengertian mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perkembangan ini pernah disebut sebagai perkembangan dari ”mitos” ke ”logos”. Kata ”logos” mengandung arti sesuatu yang mirip dengan ”logis”. Namun, dalam tahap ini memang manusia tidak hanya melulu berpikir secara logis, tapi emosi dan harapan juga bermain di sini, pun agama dan keyakinan juga tetap berpengaruh. Sekarang ajaran mengenai dunia mitologis berubah menjadi metafisika. Refleksi atas kehidupan manusia dengan para pemikir besar Yunani, sebut saja Aristoteles, Plato, dan lain-lain meramaikan alam pikiran ontologis ini. Pertanyaan yang diajukan dalam alam pikiran ini adalah tentang dunia transenden, tentang kebebasan manusia, pengertian mengenai dosa dan kehidupan, eskaton (akhir jaman), dll. Fungsi dari alam pikiran ontologis adalah sebagai berikut: pertama, membuat suatu peta mengenai segala sesuatu yang mengatasi manusia. Gambar dari tahap ontologis adalah sebagai berikut: Ontologis tersebut mau mengatakan sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu). Akan terlihat bahwa ontologi itu berkembang dalam lingkungan-lingkungan kebudayaan kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu pengetahuan. Tahap ketiga atau fungsionil ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern. Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis), ia tidak lagi dengan kepala dingin ambil jarak terhadap obyek penyelidikannya (sikap ontologis). Bukan, ia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Tahap fungsional adalah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern. Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis). Ia tidak lagi, dengan kepala dingin, mengambil jarak terhadap obyek penelitiannya (sikap ontologis). Ia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Dalam gambar strategi fugnsional itu nampak sebagai berikut: Strategi kebudayaan sebetulnya lebih luas dari pada hanya menyusun suatu policy tertentu mengenai kebudayaan. Di belakang policy kebudayaan seperti disusun oleh pemerintah atau diperjuangkan oleh sekelompok seniman atau ilmiawan, terpampang masalah-masalah yang lebih luas jangkauannya. Seperti misalnya pertanyaan-pertanyaan menyangkut tujuan hidup, makna kehidupan, norma yang mengatur kontak antar manusia, dsb. Dan oleh karena pertanyaan itu, manusia selalu berusaha menemukan jawaban-jawabannya. Maka teruslah proses dinamika sejarah tersebut. B. Kebudayaan sebagai rencana. Kebudayaan dapat dipandang sebagai cara-cara untuk mengatasi masalah. Dan bila ditelusuri lebih dalam untuk mencapai tujuan bukan saja piranti yang dibutuhkan harus ada, namun agar piranti tersebut dapat digunakan efektif dan atau efisien dalam mencapai tujuan yang hakikatnya berada dalam lingkaran masa depan maka memerlukan sebuah rencana dan atau strategi yang matang/baik, dengan kata lain rencana dan atau strategi yang baik akan membawa manusia pada pencapaian masa depan atau hari esok yang cerah sebagai titik tujuan. Van Peursen (1978:216) mengatakan, bahwa kebudayaan merupakan strategi atau rencana yang dibuat oleh manusia dan diarahkan kepada hari depan. Dengan demikian kebudayaan bukan saja merupakan alat/piranti untuk menggapai tujuan, hari depan yang cerah, tetapi sekaligus sebagai strategi dan atau rencana masa depan, masa depan yang panjang, masa depan yang diperebutkan tangan-tangan insan. Mencapai hari/masa depan yang cerah menjadi impian setiap orang, untuk itulah memerlukan rencana yang baik dan alat yang baik pula. Kebudayaan sebagai rencana masa depan kehidupan manusia, yang mana manusia sendiri sebagai produsen dan sekaligus konsumen kebudayaan oleh karenanya manusia haruslah dapat melahirkan kebudayaan yang baik, kebudayaan yang memiliki nilai kemanusiaan dan nilai keilahian, kebudayaan yang membumi dan langit. Kebudayaan yang memiliki nilai kemanusiaan dan nilai keilahian atau kebudayaan yang membumi dan melangit inilah yang dapat membuat manusia dalam suasana keaktifan, kedinamisan, keoptimisan, kearifan dan keselarasan/ keseimbangan serta kesadaran terhadap dirinya baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan. Kebudayaan ini pula yang dapat melepaskan tali belenggu kebodohan dan pembodohan, kemiskinan dan pemiskinan (moral). Juga menjadi peluru yang dapat merobek tabir misteri kehidupan, dan peluru penembus dinding penyekat ruang dan waktu yang sempit dan menyempit yang terus membentengi kehidupan manusia. Dan pada akhirnya melalui kebudayaan yang didasari nilai kemanusiaan dan keilahian manusia mampu meraih hari depan yang cerah sebagai titik tujuan yang dicita-citakan. Gazalba (1973: 60) mengatakan, bahwa ruang dan waktu menentukan kebudayaan. Berbeda ruang berbeda kebudyaannya. Berlainan waktu berlainan kebudayaannya. Kebudayaan pada hakikatnya terus berubah sesuai perkembangan zaman dan menjadi media yang menjadikan manusia mengerti dirinya dan dunianya, menjadikan insan yang berbudaya dan beradab, serta menjadi jembatan emas yang mengantarkan manusia meraih hari depan yang dicita-citakan yang didasari nilai kemanusiaan dan keilaihian. C. Dunia-dunia yang mungkin dan yang tidak mungkin 1. Struktur-struktur dunia Apabila kita mempelajari sebuah struktur, maka biasanya perhatian kita lebih tertarik oleh pola garis-garis daripada oleh unsur-unsur sendiri dalam hubungan itu. Kadang-kadang kita harus menembus barang-barang untuk dapat melihat strukturnya. Struktur atau susunan selembar daun pohon dengan tulang-tulangnya baru tampak jelas, bila daun itu dikeringkan dulu, sehingga unsur-unsurnya, seperti hijau daun, maupun sel-sel lenyap, sehingga tampaklah strukturnya yang lebih abstrak. Tetapi sebagian dari individualitas daun tersebut hilang, struktur itu sama dengan struktur daun-daun lainnya. Cara terbaik untuk menjelaskannya ialah sebuah pepatah tersohor dari filsuf G.W. Leiniz: “semua dunia yang mungkin”, artinya dunia yang tidak hnaya menjelaskan dunia kita ini, tetapi semua dunia yang tidak ada, tetapi yang mungkin pernah akan ada. Bagaimana pun abstraknya suatu dunia yang mungkin kita bayangkan tetap di sana memiliki sebuah struktur, seperti perumpamaan daun diatas. Sehingga dapat menghasilkan dunia individual (misalnya satu dunia yang sepi dari kecelakaan tertentu, atau suatu dunia yang tidak memiliki gaya grafitasi). Menurut Leibniz terciptanya dunia ini oleh Tuhan juga terjadi sedemikian rupa. Dalam batin Tuhan terkandung sebuah skema umum mengenai segala macam dunia yang mungkin. Salah satu di antaranya dipilih Tuhan dan demikianlah dunia ini terjadi. 2. Bidang gelap Dari mekanisme pelatuk, dapat kita pahami Struktur bukanlah sebuah nasib yang harus kita terima begitu saja. Justru sebaliknya, apabila kita dapat memahami struktur-struktur itu, maka kita dapat melihat juga di mana terdapat jalan-jalan buntu, sehingga jalan terbuka bagi permasalahan yang serba baru, yaitu bagaimana kita dapat menggerakkan suatu strategi kebudayaan yang sungguh dapat dipertanggungjawabkan. Sangatlah sulit untuk menghapus bidang gelap, sebagai contoh dapat kita lihat pada kehidupan para gelandangan yang sudah sering kita temui, namun kita tidak melakukan apa pun untuk merubah kondisi mereka, bahkan terkadang para gelandangan itu tidak mau di pindahkan dari kehidupannya. Para gelandangan menolak untuk dipindahkan biasanya karena mereka takut untuk menghadapi situasi yang baru, dan cara hidup mereka atau pun tempat tinggal mereka yang tidak manusiawi tidak meresahkan mereka sama sekali, bahkan mereka tidak menganggap hal tersebut memerosotkan martabat mereka. Untuk menanggulangi situasi seperti ini kedua pihak harus bekerjasama, yang dibantu, dan yang membantu, barulah bidang gelap dapat dihilangkan. a. Kesimpulan Kebudayaan lahir dan hidup bersama masyarakat manusia, masyarakat menjadi wadahnya dan manusia yang melahirkannya. Tiga tahap dalam bagan kebudayaan ialah: Tahap mitis, tahap ontologism, dan tahap fungsionil. kebudayaan merupakan strategi atau rencana yang dibuat oleh manusia dan diarahkan kepada hari depan. Dengan demikian kebudayaan bukan saja merupakan alat/piranti untuk menggapai tujuan, hari depan yang cerah, tetapi sekaligus sebagai strategi dan atau rencana masa depan, masa depan yang panjang, masa depan yang diperebutkan tangan-tangan insan. Setiap dunia yang diangan-angankan manusia, atau setiap hal yang abstrak pada dasarnya pasti memiliki struktur. Cara untuk menghilangkan bidang gelap adalah dengan meninggkatkan kepedulian kita terhadap sekeliling kita, tidak menyerahkan segala hal kepada nasib, namun kita harus melawannya.

Hegel

BAB I
PENDAHULUAN
Biografi Hegel Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) lahir di Stuttgart, Jerman, pada tahun 1770 dan meninggal di Berlin pada tahun 1831. Selama turun-temurun keluarganya menjadi pegawai negeri. Ayah Hegel sendiri bekerja di kantor pajak Württemberg. Hegel memiliki aksen Swabia yang kental dan terus ia pertahankan sampai akhir hiupnya, sama halnya dengan keyakinannya bahwa kerendahan diri adalah salah satu cirri utama dari kebudayaan yang sejati. Ia belajar Filsafat dan teologi di Tubingen. Salah satu temannya sesama mahasiswa di universitas Tübingen adalah Schelling. Sementara Schelling sudah menunjukkan kecemerlangan intelektual sejak usia mudanya, maka Hegel adalah orang yang lebih "Lambat panas". Filsafatnya baru muncul setengah generasi setelah Filsafat Schelling dan tampak sangat terpengaruh olehnya. Hegel pernah menjadi guru privat, editor surat kabar, kepala sekolah, dan akhirnya professor filsafat pertama di Universitas Heidelberg dan di Berlin. Ia sangat produktif, dan sampai menjelang wafatnya ia masih menjadi tokoh intelektual yang dominan di Jerman. Di antara karya-karyanya yang sangat berpengaruh adalah Fenomenologi Roh (Phenomenology of Spirit, 1806), Ilmu Logika (1812), Filsafat Sejarah (1818), dan Filsafat Hak (1821). Buku Hegel yang pertama kali diterbitkan adalah tentang perbedaan antara filsafat Fichte dan Filsafat Schelling. Filsafat Hegel sendiri dapat dipandang sebagai gabungan dari kedua filsafat itu. Hegel memandang realitas sebagai suatu kesatuan organik, dan realita merupakan sesuatu yang tidak berada dalam keadaan stabil, melainkan dalam suatu proses perkembangan yang terus berlangsung. BAB II PEMBAHASAN A. Fenomenologi Roh Bagi Hegel, filsafat sebagai usaha rasional manusia memahami realitas merupakan sebuah fenomenologi roh. Maksud Hegel, filsafat adalah pembahasan atau ajaran rasional (logos) mengenai penampakan-penampakan (phainomena) roh di dalam peristiwa-peristiwa dunia. Ada tiga pengertian roh (Geist) yang dimaksudkan Hegel kelau ia melihat filsafatnya sebagai fenomenologi:
(1) Roh subjektif (der subjective Geist ) adalah prinsip kesadaran atau jiwa dari masing-masing individu/subjek. Dengan demikian, prinsip ini terkait secara signifikan dengan ciri, corak dan kekhasan masing-masing subjek dalam memahami realitas dan mengkonstruksikannya.
(2) Roh objektif (der objective Geist ) adalah "roh umum" (Gemeingeist) yang memang menggerakkan dan mengatasi kesadaran masing-masing individu—maka bersifat supra-individual—namun nyatanya masih berbagi nasib dengan hidup dan sejarah manusia dalam kesadarannya. Dengan demikian, roh ini pun masih terikat ruang – waktu, dan karenanya mengalami dinamika perubahan. Menerut Hegel, roh ini mengejawantahkan drinya dalam tiga tatanan : hukum, negara, dan hidup para bangsa (sejarah dunia).
(3) Roh Absolut (der absolute Geist) adalah Roh Murni yang mempengaruhi baik kesadaran individu masing-masing individu (roh subjektif) maupun kesadaran bangsa manusia (roh objektif), tanpa sendiri dipengaruhi oleh mereka. Roh ini bergerak penuh kedaulatan di dalam semua, mengembangkan diri di dalam semua (sebagai agama, seni, dan filsafat) dan mengatasi semua. Dengan demikian, dilihat secara menyeluruh, fenomenologi roh rancangan Hegel adalah filsafat sejarah yang bersifat teologis, atau: teologi sejarah yang bersifat filosofis. Ia merupakan perangkat filosofis untuk memahami dan memaknai segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah dunia ini. Dari sudut pandangan filsafat Hegel, gerak zaman adalah proses pogresif dari semakin menjadi sadarnya Roh Absolut akan dirinya sendiri. Manusia mengambil bagian secara aktif dalam gelombang dahsyat gerak zaman itu.

B. Pemikiran Hegel Tentang Sejarah
Hegel menerima idealisme Kant dan memandang realitas sebagai produk dari kegiatan pikiran rasional. Namun, pikiran ini sangat berbeda dari ego Cartesius para rasionalis (termasuk Kant). Bagi Hegel pikiran adalah semacam roh universal (Geist) yang bergerak melewati ruang dan waktu. Akal budi dianggap sebagai prinsip dasar yang menggerakkan semangat ini disepanjang sejarah (tema yang sangat bernuansa Heraklitus). Secara kasar, kontradiksi di pusat Geist adalah "mesin" rasional dari perubahan sejarah. Berdasarkan metode pendekatan hegel terhadap sejarah, Hegel membagi sejarah menjadi tiga macam, yaitu; Sejarah asli, Sejarah reflektif dan Filsafat sejarah. Selain itu bagi Hegel, alam merupakan titik tolak pertama bagi manusia untuk dapat memperoleh kebebasan di dalam dirinya sendiri. Dengan begitu alam merupakan teater sejarah bagi manusia. Teater sejarah yang sejati adalah wilayah yang beriklim sedang; atau belahan utaranya. Bumi di belahan ini menampilkan dirinya dalam bentuk benua. Kebalikan dari itu, di sebelah selatan, bumi membagi dirinya, dan berakhir menjadi banyak titik. Kekhasan ini juga mnampakkan diri dalam berbagai hasil alam. Perbedaan geografis spesifik harus dipandang sebagai perbedaan yang sangat penting dan rasional, berbeda dengan berbagai keadaan yang hanya bersifat kebetulan. Perbedaan yang khas ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: dataran tinggi yang kering dengan stepa dan dataran yang luas; daratan yang berlembah dengan tanah peralihan yang diresapi dan dialiri oleh banyak sungai besar; dan kawasan pantai yang berhubungan langsung dengan laut.

C. Evolusi Sejarah Menurut Hegel, sejarah dunia bermula dengan tujuan umumnya, yaitu perealisasian ide. Ia berjalan dari Timur ke Barat. Asia pangkal sejarah dan Eropa adalah ujungnya. Evolusi sejarah dunia melalui empat tahap; yaitu

a) Tahap pertama adalah Dunia Timur tahap ini merupakan masa kanak-kanak sejarah. Kesadaran dari Timur merupakan kesadaran yang tidak terefleksikan. Kehendak subjektif timur menjalin hubungan dengan bentuk-bentuk keyakinan, kepercayaan, dan kepatuhan. Dalam kehidupan politik Timur, terdapat kebebasan rasional yang disadari, akan tetapi pengembangan dirinya sendiri belum maju kearah kebebasan subyektif. Kelebihan dari konsepsi Timur terletak pada konsep satu individu sebagai substansial yang memiliki semuanya, sehingga tidak ada individu lain, di luar satu individu itu, yang memiliki satu eksistensi terpisah dan dapat merefleksikan dirinya dalam kebebasan subjektifnya. Semua kekayaan imajinasi dan alam menyesuaikan diri dengan satu eksistensi yang dominan tersebut. Dalam kasus seperti ini, kebebasan subyektif menjadi berfusi. Para individu tidak mencari martabat di dalam dirinya, melainkan di dalam obyek yang mutlak itu.

b) Tahap kedua adalah Dunia Yunani Dunia Yunani merupakan periode masa remaja. Di sini kita menemukan individualitas membentuk diri orang-orang Yunani. Ini adalah prinsip pokok tahap kedua dalam sejarah manusia. Moralitas mereka seperti halnya di Asia merupakan sebuah prinsip, akan tetapi dipaksakan kepada individualitas, akibatnya kebebasan merujuk kepada kemauan bebas dari para individu. Tahap ini juga merupakan tahap kesatuan antara moral dengan kehendak subyektif.

c) Tahap yang ketiga adalah Dunia Romawi Ini merupakan kawasan Universalitas Abstrak. Dimana tujuan sosial menyerap semua tujuan individu. Romawi mempresentasikan kerja keras dan kejantanan sejarah. Tindakan mereka tidak sesuai dengan tingkat kuasanya seorang raja yang lalim sebagaimana terjadi di Timur; dan tidak juga taat kepada tingkahnya sendiri seperti yang terjadi di Yunani. Ia sudah bekerja untuk suatu tujuan yang umum. Di sana kesadaran akan tujuan pribadinya diletakkan hanya dalam tujuan umum tersebut. Dengan demikian negara mulai memiliki eksistensi abstrak, dan mengembangkan dirinya untuk suatu tujuan tertentu, guna mencapai tujuan para anggotanya yang ambil bagian di dalamnya, akan tetapi tujuan ini belum utuh dan kongkrit (menggunakan seluruh ada mereka). Di sana para individu yang bebas dikorbankan bagi tuntutan tujuan nasional yang keras, untuk itu mereka harus rela menyerahkan diri ke dalam kebaktian.

d) Tahap keempat Dunia Jermania Disebut dunia Jeremania karena prinsip yang mendasari tahap keempat ini, mencapai realitas konkritnya hanya dalam sejarah bangsa Jerman. Pada tahap ini tercapai kerajaan roh dalam arti yang penuh. Tahap ini bermula dari rekonsiliasi dalam agama Kristen. Tidak ada lagi antithesis antara Gereja dan Negara. Hal ini bukan karena penghapusan yang sekuler, melainkan yang spiritual bergabung kembali dengan yang sekuler. Yang spiritual mengembangkan yang sekuler menjadi sebuah eksistensi organik yang independen. Keadaan ini juga tidak membuat negara inferior terhadap gereja. Negara tidak lagi berkedudukan lebih rendah dari gereja, sementara gereja tidaklah memaksakan adanya hak-hak istimewa baginya. Di sisi lain, negara tidak lagi asing dengan unsure spiritual. Dalam tahap seperti inilah, kebebasan menemukan sarana untuk merealisasikan idealnya. Inilah hasil akhir yang ingin dan telah dicapai oleh sejarah.

D. Organisme Sejarah
Hegel memvisualkan negara sebagai suatu organisme yang memiliki kehendak umum yang kolektif. Negara merupakan entitas yang sadar dan berpikir, yaitu dengan akal atau rohnya. Roh ini sekaligus juga merupakan roh bangsa kolektif yang membentuk suatu negara. Dengan demikian, kehidupan bangsa sama dengan kehidupan individu. Mempunyai alur hidup yang harus dilalui oleh suatu bangsa atau negara, sebagaimana alur hidup yang dilalui oleh individu. Individu akan musnah, demikan juga dengan bangsa. Setalah musnahnya suatu bangsa maka akan lahir bangsa atau negara baru, akan tetapi tidak memulai kehidupan yang sama sekali baru. Bangsa atau negara baru ini memulai kehidupannya di atas puing-puing serta pencapaian-pencapaian yang telah dicapai oleh sejarah.

E. Dialektika
Menurut Hegel, gerakan roh dalam sejarah diatur oleh proses dialektika. Maksudnya, kontradiksi dalam roh universal bisa dimengerti sebagai dua sisi dari suatu argument (tesis dan antitesis) yang disatukan. Ia berpikir, proses ini berlanjut sampai semua kontradiksi dari roh itu telah terpecahkan dengan sendirinya. Hegel berpendapat bahwa pada akhir sejarah, roh telah mendapatkan pengetahuan yang lengkap tentang dirinya.

F. Kekuatan dan Kelemahan
Dalam cara yang paling sederhana, filsafat Hegel menyatakan bahwa sejarah adalah proses sosial yang disebabkan oleh pertentangan antara sistem-sistem ide yang saling-bersaing. Pertentangan ini digambarkan seperti perjuangan antara tuan dan budak. Perjuangan ini hanya bisa diselesaikan jika si tuan membebaskan budaknya. Ide-ide berjuang untuk mendapatkan suatu pengakuan. Saat ide-ide yang "lemah" diakui valid dan signifikan oleh yang "kuat", akan terjadi perubahan pad aide dominan yang lebih kuat. Pada titik ini, ide baru akan muncul untuk menggantikan keduanya. Hegel menyebut proses perubahan sejarah sebagai proses dialektis. Proses ini menghasilkan bentuk baru dan lebih baik dari pengetahuan, setelah melalui proses tesi, antithesis, dan akhirnya suatu penyatuan yang baru.

G. Akhir dari Sejarah
Menurut Hegel, kapankah sejarah akan berakhir? Mungkin pada saat tidak ada lagi pertentangan antara ide-ide yang bersaing. Menurutnya hal ini terjadi pada tahun 1806 ketika Napoleon mengalahkan tentara Prussia pada perang Jena. Menurut Hegel, perang ini menggambarkan kejayaan akhir dari ide-ide yang memotivasi revolusi Prancis, yaitu ide-ide tentang kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Ide-ide ini sangat sukar dipercaya dan terlihat konyol. Namun, seorang filsuf kontemporer Amerika, Francis Fukuyama, juga mengatakan bahwa sejarah sudah berakhir dengan dibubarkannya Uni Soviet. Kegagalan sistem utama oposisi terhadap kapitalisme modern menandai kejayaan akhir dari ide liberal tentang hak-hak individu yang tidak dapat dicabut.
Menurut Fukuyama, kita tinggal di dunia "pasca sejarah" di mana tidak banyak yang terjadi, dan masalah sosial yang paling menekan adalah kebosanan. Namun, untungnya sebagain besar dari kita masih penasaran tentang masa depan sejarah. Pada akhir masa perang dingin, seperti banyak filsuf lain, Fukuyama menjadi terlalu terbawa secara Filosofis. H. Panteisme Sejarah Sepanjang pembicaraan Hegel mengenai sejarah, baik dalam sistem idealismenya secara umum maupun secara lebih khusus, kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh Hegel dengan Roh, Rasio atau Akal itu sesungguhnya adalah Tuhan. dalam berbagai tempat Hegel menyatakan hal tersebut baik secara eksplisit maupun implisit. Alam dan sejarah oleh Hegel dipahami sebagai kehadiran Tuhan. Dalam teologi atau mistisme hal ini dikenal dengan nama Pantheisme. I. Analisis 1. Kausalitas Sejarah Menurut Hegel sejarah merupakan jalan keniscayaan rasional Ruh-Dunia-Ruh yang hakikatnya senantiasa satu dan sama, namun yang mengungkapkan hakikatnya yang satu ini dalam fenomena keberadaan dunia. Tingkat kemajuan sejarah suatu bangsa ditentukan juga oleh taraf perwujudan diri roh pada bangsa itu. Taraf perwujudan diri roh pada suatu bangsa ditentukan oleh tingkat kesiapan bangsa itu menerima manifestasi roh pada taraf yang bagaimana. Seterusnya, tingkat kesiapan suatu bangsa menerima taraf aktualisasi roh pada tahap mana itu ditentukan oleh taraf kesadarannya. Sementara, taraf kesadaran suatu bangsa ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu alam, zaman dan wilayah, serta agama dan budaya, dengan demikian dalam sistem Hegel jelas ada kausa-kausa yang menjelaskan mengapa sejarah berlaku demikian dan hanya demikian. 2. Kebebasan Sejarah Dalam paradigma Hegel, kebebasan terkait kesadaran dan tujuan, bukan kehendak dan tindakan proaktif. Kebebasan lebih menyangkut aspek kognitif. "…. Hakikat esensial kebebasan — yang di dalamnya meliputi keniscayaan mutlak— …. Kesadaran tentang dirinya… menyadari eksistensinya. Hukum adalah objektifitas Ruh, kemauan dalam bentuknya yang sejati. Hanya kehendak yang mematuhi hukumlah yang bebas… manakala kehendak subjektif manusia tunduk kepada hukum – kontradiksi antara kebebasan dengan kebutuhan lenyap. Kebebasan ridak lain merupakan pengenalan dan penggunaan berbagai objek substansial universal seperti Hak dan Hukum, dan hasil dari realitas yang sesuai dengannya – negara." Hegel membagi kebebasan menjadi kebebasan subjektif dan kebebasan objektif. Kebebasan subjektif adalah kebebasan yang terkandung dalam diri setiap individu, sementara kebebasan objektif adalah kebebasan yang terkandung dalam kolektivitas sosial suatu bangsa.

By. Hanifa Annisa

Daftar Pustaka

Ismail, Sanusi. 2012. Filsafat Sejarah: wacana tentang kausalitas dan kebebasan dalam kehidupan kolektif. Banda Aceh: Arranirypress. Magee, Bryan. 2008. The Story of Philosophy: Kisah Tentang Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Strathern, Paul. 2001. 90 Menit Bersama Hegel. Jakarta: Erlangga. Suseno, Franz Magnis-. 2008. Sesudah Filsafat: Esai-Esai untuk Franz Magnis-Suseno. Yogyakarta: Kanisius. Turnbull, Nil. 2005. Bengkel Ilmu: Filsafat. Jakarta: Erlangga.

Thursday, 20 October 2011

Filsafat Abad Pertengahan

Filsafat barat abad pertengahan (476-1492) dapat dakatakan sebagai “abad gelap”. Pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir pada saat itu pun tidak lagii memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang mengemukakannya akan mendapat hukuman berat. Pihak gereja melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena itu, kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkuisisi). Penfejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad Pertengahan adalah:
 Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja;
 Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles;
 Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.

Masa Abad Pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam kehidupan/system kepercayaan yang picik dan fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan terhambat.
Masa ini penuh dengan dominasi gereja, tujuannya untuk membimbing umat kearah hidup yang saleh. Namun, di sisi lain, dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.
Masa Abad Pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu: masa Patristik dan masa Skolastik. Masa Skolastik terbagi menjadi: Skolastik Awal, Skolastik Puncak, dan Skolastik Akhir.

A. Masa Patristik
Istilah Patristik berasal dari kata Latin pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan ahli pikir inilah yang menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat Yunani dan ada yang menerimanya.
Bagi mereka yang menolak, asalnya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti dari filsafat Yunani. Bagi mereka yang menerima sebagai alasannya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani karena yang diambil hanya metodosnya saja (tata cara berpikir). Selain itu meskipun filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai/menerima filsafat Yunani diperbolehkan selama dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama.
Perbedaan pendapat tersebut berkelanjutan, sehingga orang-orang yang menerima filsafat Yunani menuduh bahwa mereka (orang-orang Kristen yang menolak filsafat Yunani) itu munafik. Kemudian, orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, dan tuduhan tersebut dianggap fitnah. Sementara itu orang-orang yang menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa dirinyalah yang benar-benar sejalan dengan Tuhan.
Akibatnya, muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu para apologis (pembela iman Kristen) dengan kesadarannya membela iman Kristendari serangan filsafat Yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Au-relius Augustinus.

1. Justinus Martir
Nama aslinya Justinus, kemudian nama Martir diambil dari istilah “orang-orang yang rela mati hanya untuk kepercayaannya”.
Menurut pendapatnya, agama Kristen bukan agama baru karena Kristen lebih tua dari filsafat Yunani, dan Nabi Musa dianggap sebagai awal kedatangan Kristen. Padahal, Musa hidup sebelum Socrates dan Plato. Socrates dan Plato sendiri telah menurunkan hikmahnya dengan memakai hikmah Musa. Selanjutnya dikatakan bahwa filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan pada Kristus adalah logos.

2. Klemens (150-215)
Ia juga termasuk pembela Kristen tetapi ia tidak membenci filsafat Yunani. Pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut:
- Memberikan batasan-batasan terhadap ajaran Kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas filsafat Yunani.
- Memerangi ajaran yang anti terhadap Kristen dengan menggunakan filsafat Yunani.
- Bagi orang Kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen dan memikirkan secara mendalam.

3. Tertullianus (160-222)
Ia dilahirkan bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanakan pertaubatan ia menjadi gigih membela Kristen secara fanatik. Ia menolak kehadiran filsafat Yunani karena filsafat dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu. Menurutnya wahyu Tuhan sudahlah cukup. Tidak ada hubungan antara teologi dengan filsafat, antara Yerussalem (pusat agama) dengan Yunani (pusat filsafat), antara gereja dengan akademi dan Kristen dengan penemuan baru.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa dibanding dengan cahaya Kristen, segala yang dikatakan oleh para filosof Yunani tidaklah penting. Apa yang dikatakan oleh para filosof Yunani tentang kebenaran pada hakikatnya adalah titipan dari kitab suci. Akan tetapi, karena kebodohan para filosof kebenaran kitab suci tersebut dipalsukan. Namun, lama-kelamaan Tertullianus akhirnya menerima juga filsafat Yunani sebagai cara berpikir yang rasional.

4. Augustinus (354-430)
Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat antara lain Platonisme dan skeptisisme. Ia telah diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh besar pada filsafat abad pertengahan sehingga ia dijuluki sebagi guru skolastik sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat.
Setelah mempelajari aliran Skeptisisme, ia kemudian tidak menyetujui atau menyukainya, karenadi dalamnya terdapat pertentangan batiniah. Orang dapat meragukan segalanya, tetapi orang tidak dapat meragukan bahwa ia ragu-ragu. Seseorang yang ragu-ragu sebenarnya ia berpikir dan seseorang yang berpikir sesungguhnya ia berada (eksis).
Menurut pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal pikiran manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.
Akhirnya, ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad, dan mempengaruhi pemikiran Eropa.

B. Masa Skolastik
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. jadi, skolastik berarti aliran yang berkaitan dengan sekolah. perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu sebagai berikut:
- Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius.
- Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk, dari rumusan tersebut kemudian muncul istilah skolastik Yahudi, skolastik Arab dan lain-lain.
- Filsafat Skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
- Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor religius, dan faktor ilmu pengetahuan.

 Faktor Religius
Faktor religius dapat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Yang dimaksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ke tanah suci Yerussalem, dunia ini bagaikan negeri asing dan sebagai tempat pembuangan limbah air mata saja (tempat kesedihan). Sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga.

 Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja, ataupun dari keluarga istana. Kepustakaannya diambilkan dari para penulis Latin, Arab (Islam), dan Yunani.
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga periode, yaitu:
- Skolastik Awal, berlangsung dari tahun 800-1200;
- Skolastik Puncak, berlangsung dari tahun 1200-1300;
- Skolastik Akhir, berlangsung dari tahun 1300-1450.

Skolastik Awal
Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya yang telah dibangun selama berabad-abad ikut runtuh.
Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada dibawah Karel Agung (742-814) dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termasuk kehidupan manusia serta pemikiran filsafat yang semuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah yang merupakan kecermerlangan abad pertengahan, di mana arah pemikirannya berbeda sekali dengan sebelumnya.
Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes liberales, meliputi tata bahasa, retorika, dialektika (seni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan musik.
Di antara tokoh-tokohnya adalah Aquinas (735-805), Johannes Scotes Eriugena (815-870), Peter Lombard (1100-1160), John Salisbury (1115-1180), Peter Abaelardus (1079-1180).

Peter Abaelardus (1079-1180)
Ia dilahirkan di Le Pallet, Prancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pendangannya sangat tajam sehingga sering kali bertengkar dengan para ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantic, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan kekuatan iman. Iman harus didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui atau dapat diterima oleh akal.
Berbeda dengan Anselmus yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada diluar iman (di luar kepercayaan). Karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metode dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian, dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti dalam ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk dalam wahyu Tuhan.

Skolastik Puncak
Masa ini merupakan kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200-1300 dan masa ini juga disebut masa berbunga. Masa itu ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping itu juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi mengapa masa skolastik mencapai puncaknya:
- Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 hingga sampai pada abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
- Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai embrio awal berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lain.
- Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang perana di bidang filsafat dan teologi, seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.

Upaya Kristenisasi Ajaran Aristoteles
Pada mulanya hanya sebagian ahli pikir yang membawa dan meneruskan ajaran Aristoteles, akan tetapi upaya ini mendapatkan perlawanan dari Augustinus. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu anggapan bahwa ajaran Aristoteles yang mulai dikenal pada abad ke-12 telah diolah dan tercemar oleh ahli pikir Arab (Islam). Hal ini dianggap sangat membahayakan ajaran Kristen. Keadaan yang demikian ini bertolak belakang bahwa ajaran Aristoteles masih diajarkan di faku;ltas-fakultas, bahkan dianggapnya sebagai pelajaran yang penting dan harus dipelajari.
Untuk menghindari adanya pencemaran tersebut di atas (dari ahli pikir Arab atau Islam), Albertus Magnus dan Thomas Aquinas sengaja menghilangkan unsure-unsur atau selipan dari Ibnu Rusyd, dengan menerjemahkan langsung dari bahasa latinnya. Juga, bagian-bagian ajaran Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen diganti dengan teori-teori baru yang bersumber pada ajaran Aristoteles dan diselaraskan dengan ajaran Kristen. Langkah terakhir, dari ajaran Aristoteles telah diselaraskan dengan ajaran ilmiah (suatu sintesis antara kepercayaan dan akal).

Albertus Magnus (1203-1280)
Albertus Magnus adalah seorang biarawan dan cendekiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama Albert von Bollstadt yang juga dikenal sebagai “dokter universalis” dan “dokter magnus”, kemudian bernama Albertus Magnus (Albert the Great). Ia mempunyai kepandaian luar biasa. di universitas padua ia belajar artes liberales, ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedokteran, filsafat Aristoteles, belajar teologi di Bulogna, dan masuk ordo Dominican tahun 1223, kemudian ke Koln menjadi dosen filsafat dan teologi.

Thomas Aquinas (1225-1274)
Nama sebenarnya adalah Santo Thomas Aquinas, artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Di samping sebagai ahli pikir, ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia.
Menurut Thomas Aquinas, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pemikiran. Ia menghimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yang terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara ketuhanan walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikir.

Skolastik Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandegan). Di antara tokoh-tokohnya adalah William Ockham (1285-1349), dan Nicolas Cusasus (1401-1464).

William Ockham (1285-1349)
Ia merupakan ahli pikir inggris yang beraliran skolastik. Karena terlibat dalam pertengkaran umum dengan Paus John XXII, ia dipenjara di Avignon, tetapi ia dapat melarikan diri dan mencari perlindengan pada Kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan mendalilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yang umum itu hanya tanda-tanda abstrak.
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yang demikian ini , dapat dilalui hanya lewat intuisi, bukan lewat logika. Di samping itu, ia membantah anggapan skolastikbahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang pada waktu itu penguasanya adalah Paus John XXII.

Nicolas Cusasus (1401-1464)
Ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir pada masa skolastik. Menurut pendapatya, terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat indra, akal, dan intuisi. Dengan indra kita akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indra. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita akan dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Manusia seharusnya menyadari akan keterbatasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat diketahui. Karena keterbatasan akal tersebut, hanya sedikit saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akan sampai pada kenyataan, yaitu suatu tempat di mana segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan.

Skolastik Arab (Islam)
Dalam bukunya, Hasbullah Bakry menerangkan bahwa istilah skolastik Islam jarang dipakai di kalangan umat Islam. Istilah yang biasa dipakai adalah Ilmu Kalam atau filsafat islam. Dalam pembahasan antara ilmu kalam dan filsafat Islam biasanya dipisahkan.
Tokoh-tokoh yang termasuk para ahli pikir Islam (pemikir Arab atau Islam pada masa skolastik), yaitu Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd. Peranan para ahli pikir tersebut besar sekali, yaitu sebagai berikut.
- Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsafat Aristoteles sehingga yang dikenal hanya buku Logika Aristoteles.
- Orang-orang Barat itu mengenal Aristoteles berkat tulisan dari para ahli pikir Islam, terutama Ibnu Rusyd sehingga Ibnu Rusyd dikatakan sebagai guru terbesar para ahli pikir Skolastik Latin.
- Skolastik Islamiah yang membawakan perkembangan Skolastik Latin.
Tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, tetapi para ahli pikir Islam tersebut memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi Eropa, yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan. para ahli pikir Islam sebagian menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Alquran benar, mereka mengadakan perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian masuk ke Eropa yang merupakan sumbangan Islam paling besar.
Dengan demikian, dalam pembahasan skolastik islam terbagi menjadi dua periode, yaitu:
- Periode Mutakallimin (700-900);
- Periode Filsafat Islam (850-1200).

Banyak buku filsafat dan sejenisnya mengenai peranan para ahli pikir Islam atas kemajuan dan peradaban Barat sengaja disembunyikan karena mereka (Barat) tidak mau mengakui secara terus terang jasa para ahli pikir Islam itu dalam mengantarkan kemoderenan Barat.

C. Masa Peralihan
Setelah abad pertengahan berakhir sampailah pada masa peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat pembaharuan. Zaman peralihan ini merupakan embrio masa modern. Masa peralihan ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi yang berlangsung antara abad ke-14 hingga ke-16.

 Renaissance
Renaissance atau kelahiran kembali di Eropa ini merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di Italia, kemudian di Prancis, Spanyol, dan selanjutnya hingga menyebar ke seluruh Eropa. Di antara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da Vinci. Michaelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno.

 Humanisme
Humanisme pada mulanya dipakai sebagai suatu pendirian ahli pikir Renaissance yang mencurahkan perhatiannya terhadap pengajaran kesusastraan Yunani dan Romawi, serta perikemanusiaan. Kemudian, Humanisme berubah fungsinya menjadi gerakan untuk kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra Yunani atau Romawi. Di antara para tokohnya adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus, dan Thomas Morre.

 Reformasi
Reformasi merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat pada abad ke-16. revolusi tersebut dimulai dari gerakan terhadap perbaikan keadaan gereja Katolik. Kemudian berkembang menjadi asas-asas Protestantisme. Para tokohnya antara lain Jean Calvin dan Martin Luther.
Akhirnya dalam filsafat Renaissance salah satu unsure pokoknya adalah manusia. Suatu pemikiran yang sejajar dengan Renaissance. Pemikiran yang ingin menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan.
Ahcmadi, Asmoro. 2008. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada